
KENDAL, — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 200 memberikan edukasi ibu rumah tangga di Desa Margosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, cara mengolah sampah dapur menjadi pupuk organik cair.
Kegiatan ini digelar di rumah Kepala Desa Margosari, dengan diikuti oleh peserta dari ibu rumah tangga yang tergabung dalam organisasi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), pada hari Kamis (20/8).

Pengolahan sampah dapur menjadi pupuk organik cair dilakukan sebagai upaya mengurangi limbah rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan pupuk kimia.
Selain memberikan edukasi mengenai pemanfaatan sampah dapur, mahasiswa KKN juga membagikan bibit sayuran kepada peserta. Pembagian bibit tersebut ditujukan untuk mendukung pemanfaatan pupuk organik sekaligus mendorong kemandirian pangan keluarga.
Kepala Desa Margosari, Mahmudah, menyambut baik kegiatan yang digagas mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 200 tersebut. Ia mengapresiasi inovasi dalam mengubah sampah dapur menjadi pupuk organik cair yang dapat dimanfaatkan kembali. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki manfaat untuk mendukung kemandirian pangan keluarga.
“Saya mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN dengan mengajarkan masyarakat bagaimana cara mengolah sampah dapur menjadi pupuk organik cair yang bisa dimanfaatkan kembali. Selain menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pupuk untuk tanaman dan mendukung kemandirian pangan keluarga,” tutur Mahmudah.
Kegiatan pengolahan sampah dapur ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengurangi volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Sampah organik yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Dalam kegiatan ini, ibu rumah tangga tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga dikenalkan pada pemanfaatan hasil pengolahan sampah untuk mendukung kegiatan bercocok tanam.
Sambutan hangat juga datang dari slah satu peserta, Imronah. Menurutnya, edukasi mengenai pemanfaatan sampah dapur memberikan pengetahuan baru bagi peserta dalam mengelola limbah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
“Meskipun acaranya sore hari, tetapi materinya sangat berguna. Edukasi seperti ini memberikan pengetahuan baru bagi kami tentang bagaimana mengelola sampah dapur yang biasanya hanya dibuang. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi tahu bahwa sampah dari aktivitas sehari-hari ternyata masih bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi sesuatu yang berguna,” ujar Imronah
Koordinator acara, Ivan Nur Fathi, mengatakan pengolahan sampah dapur menjadi pupuk organik merupakan langkah sederhana mengurangi jumlah limbah dapur yang dapat dilakukan masyarakat dari lingkungan rumah masing-masing. Menurutnya, pemanfaatan sampah dapur menjadi pupuk organik juga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pupuk untuk tanaman di lingkungan rumah.
“Pengolahan sampah dapur menjadi pupuk organik ini merupakan langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat dari rumah masing-masing. Dengan memanfaatkan sampah dapur, kita dapat mengurangi jumlah limbah yang dibuang sekaligus mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” kata Ivan.
Melalui edukasi ini, diharapakan pemanfaatan sampah dapur dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus mendorong masyarakat untuk melihat sampah dapur bukan hanya sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan sampah dapur menjadi pupuk organik dan penanaman sayuran di lingkungan rumah menjadi langkah sederhana menuju lingkungan yang lebih bersih sekaligus mendukung kemandirian pangan keluarga. (Amelya Kurnia)
Dipost : 21 Agustus 2026 | Dilihat : 12
Share :